Pendidikan

Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat

Perkembangan Hadits Pada Masa Sahabat

Periode ini disebut ‘Ashr-At-Tatsabbut wa Al-Iqlal min Al-Riwayah (masa membatasi dan menyedikitkan riwayat). Nabi SAW wafat pada tahun 11 H. Kepada umatnya beliau meninggalkan dua pegangan dasar bagi pedoman hidup, yaitu Al-Qur’an dan Hadits (sunnah) yang harus dipegangi dalam seluruh aspek kehidupan umat.[3]

Setelah Nabi saw wafat, kendali kepemimpinan umat Islam berada di tangan sahabat Nabi. Sahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar as-Shiddiq (wafat 13 H/634 M) kemudian disusul oleh Umar bin Khatthab (wafat 23 H/644 M), Utsman bin Affan (wafat 35 H/656 M), dan Ali bin Abi Thalib (wafat 40 H/661 M). keempat khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-khulafa al-Rasyidin dan periodenya biasa disebut dengan zaman sahabat besar

Memasuki periode sahabat ini, yang dihadapi oleh umat islam persoalan orang orang murtad dan pertikaian politik. Para sahabat, utamanya Khulafaur Rasyidin tidak menyukai banyak periwayatan dari Rasul, takut terjadi kebohongan atas nama Rasul dan pembelokan perhatian orang islam dari Al-Qur’an kepada al-hadist. Oleh karena itu dengan pertimbangan yang matang Abu Bakar as- Shiddiq memilih mengurungkan niatnya untuk membukukan Hadits.

Pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadist tersebar secara terbatas. Penulisan hadits pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi. Bahkan pada masa itu Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan hadits, dan sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan perhatiannya untuk menyebarkan Al-Qur’an.

Alasan Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak riwayat Hadits adalah karena beliau sangat khawatir dapat menimbulkan tasyabbuh/menyerupai ahli kitab yakni Yahudi dan Nashrani yang meninggalkan kitab Allah dan menggantikannya dengan kalam mereka dan menempatkan biografi para Nabi mereka di dalam kitab Tuhan mereka. Umar khawatir umat Islam meninggalkan Al-Qur’an dan hanya membaca hadits. Jadi Umar tidak berarti melarang pengkodifikasian hadits tetapi melihat kondisi pada masanya belum memungkinkan untuk itu.

Dalam periode para sahabat ini penyampaian periwayatan dilakukan secara lisan dan hanya jika benar-benar diperlukan saja yaitu ketika umat Islam benar-benar memerlukan penjelasan hukum. Walaupun demikian, tetapi mereka sangat selektif dalam menerima hadits dan menguji kebenaran hadits tersebut.

Setelah masa khalifah Abu Bakar dan Umar berakhir, periwayatan Hadits kemudian dilanjutkan oleh Utsman bin Affan. Akan tetapi langkah Utsman tidaklah setegas langkah Umar bin Khatthab. Utsman secara pribadi memang tidak banyak meriwayatkan hadits. Ahmad bin Hambal meriwayatkan hadits nabi yang berasal dari riwayat Utsman sekitar empat puluh hadits saja. Hal ini dikarenakan beliau lebih banyak terjun dalam bidang politik.

sumber :
https://icanhasmotivation.com/cara-beli-mobil-bekas-online/

Anda mungkin juga suka...