Pendidikan

Pemeliharaan dan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)

Pemeliharaan dan Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)

Sistem pemeliharaan ternak sapi dibagi menjadi tiga, yaitu intensif, ekstensif, dan mixed farming system (sistem pertanian campuran). Pemeliharaan

secara intensif dibagi menjadi dua, yaitu (a) sapi di kandangkan secara terusmenerus dan (b) sapi di kandangkan pada saat malam hari, kemudian siang hari digembalakan atau disebut semi intensif. Pemeliharaan ternak secara intensif

adalah sistem pemeliharaan ternak sapi dengan cara dikandangkan secara terusmenerus  dengan sistem pemberian pakan secara cut and curry. Sistem ini dilakukan karena lahan untuk pemeliharaan secara ekstensif sudah mulai berkurang. Keuntungan sistem ini adalah penggunaan bahan pakan hasil ikutan dari beberapa industri lebih intensif dibanding dengan sistem ekstensif. Kelemahan terletak pada modal yang dipergunakan lebih tinggi, masalah penyakit

dan limbah peternakan (Susilorini, Sawitri, Muharlien, 2009). Untuk mendapatkan bibit sapi Bali yang baik sebaiknya dipelihara secara semi intensif disertai dengan pemberian pakan yang optimal sesuai dengan kebutuhan fisiologik ternak, yaitu dengan jalan memberikan pakan tambahan berupa konsentrat dan tidak hanya mengandalkan rumput lapang sebagai pakan basal (Bandini, 2003).

Laju pertambahan bobot badan dipengaruhi oleh umur, lingkungan dan genetik dimana bobot badan awal fase penggemukan berhubungan dengan bobot badan dewasa. Pola pertumbuhan ternak tergantung pada sistem manajemen yang dipakai, tingkat nutrisi yang tersedia, kesehatan dan iklim. Pertumbuhan dapat dinyatakan dengan pengukuran kenaikan bobot badan, yaitu dengan penimbangan berulang-ulang dan dibuat dalam pertambahan bobot badan harian, mingguan atau per satuan waktu lain (Tillman, dkk 2008). Menurut Siregar (2008) bahwa pertumbuhan yang cepat terjadi pada periode lahir hingga usia penyapihan dan puberitas, namun setelah usia puberitas hingga usia dewasa, laju pertumbuhan mulai menurun dan akan terus menurun hingga usia dewasa sampai pertumbuhan sapi berhenti. Sejak sapi dilahirkan sampai dengan usia puberitas (sekitar umur 12-15 bulan) merupakan fase hidup sapi yang laju pertumbuhannya sangat cepat.

2.5. Konsumsi Pakan

Konsumsi ransum merupakan salah satu ukuran untuk menentukan

efisiensi teknis usaha peternakan pada umumnya. Fadillah (2004) mendefinisikan

konsumsi ransum adalah jumlah ransum yang diberikan dikurangi dengan jumlah

ransum yang tersisa pada pemberian pakan saat itu. Menurut  Kartasudjana (2002)

dalam Dawahir (2008) bahwa salah satu faktor yang dapat mempengaruhi  konsumsi ransum yaitu bentuk fisik ransum. Ditambahkan Sarwono dan Arianto (2007) kemampuan sapi  mengkonsumsi ransum sangat terbatas. Keterbatasan itu dipengaruhi oleh faktor ternak, keadaan pakan, dan faktor luar, seperti suhu dan kelembapan udara.

Pakan adalah kebutuhan mutlak yang harus selalu diperhatikan dalam kelangsungan hidup pemeliharaan ternak, apalagi pada ternak ruminansia yang memerlukan sumber hijauan yang proporsinya lebih besar. Pemberian pakan dengan cara dibatasi adalah yang cukup baik, tetapi kuantitas dan kualitasnya harus diperhitungkan agar mencukupi kebutuhan ternak. Perlu dilakukan penyusunan ransum yang didasarkan kepada kelas, jenis kelamin, keadaan fisiologis dan prestasi produksi ternak bersangkutan (Setiadi, 2006). Pakan tersebut digunakan untuk kebutuhan harian hidup pokok untuk menjalani hidup, untuk produksi dan untuk bereproduksi. Sapi membutuhkan pakan berupa hijauan 10% dari berat badan dan pakan tambahan berupa konsentrat 1-2% dari berat badan berupa dedak halus, bungkil kelapa, gaplek atau ampas tahu (Tabrany, 2004).

sumber :

https://compatibleone.org/jasa-penulis-artikel/

Anda mungkin juga suka...