Pendidikan

Pembagian Berdasarkan Penisbatan

Pembagian Berdasarkan Penisbatan

  1. Hadîts Marfû’

Menurut bahasa marfû’ merupakan isim maf’ûl dari رفع yang merupakan lawan dari kata  وضع(rendah). Dipakainya istilah marfû’dikarenakan penisbahannya kepada nabi Muhammad SAW sebagai seorang sosok yang mulia, yang memiliki derajat yang tinggi.[[44]]

Sedangkan menurut Nuruddîn  Itr Hadîts Marfu’ adalah:

وهو ما اضيف إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم خاصة من قول او فعل اوتقرير او وصف[[45]]

Defenisi ini sama dengan defenisi mayoritas ulama Hadîts termasuk ‘Ajjâj al-Khâtib, hanya saja ‘Ajjâj al-Khâtib menambahkan dengan kalimat “baik hadîts itu muttasil maupun munqati’. Dan penulis memandang hal itu wajar karena Nuruddîn  Itr meletakkan pembahasan marfu’ sejalan dengan mauquf dan maqtu’, sementara ‘Ajjâj al-Khâtib meletakkannya sejalan dengan pembahasan musnad dan muttashil.[[46]]

Muttashil adalah hadits yang bersambung sanad-nya baik yang marfû  kepada Rasul Allah maupun mauqûf.  Hadits Musnad adalah hadits yang bersambung sanadnya dari awal hingga akhir, Yang biasanya dipahami sebagai hadits marfû’ lagi muttashil

Berbeda dengan mayoritas ulama, Al-Khatib al-Baghdâdîy membatasinya dengan sesuatu yang dikhabarkan oleh sahabat dari Rasul Allah SAW, baik perkataan maupun perbuatan. Dan jika kita amati defenisi Hadîts Mursal tidak termasuk ke dalam Hadîts marfu  sesuai dengan defenisi ini.

  1. Hadîts Mauquf

Menurut bahasa mauqûf’ merupakan isim maf’ûl dari الوقف  (berhenti). [[47]] Jadi secara bahasa hadîts mauqûf yaitu hadîts yang para perawinya berhenti hanya sampai tingkatan sahabat, dan tidak meneruskannya sampai ke ujung sanad yang tersisa. 

Secara istilah Hadîts Mauquf adalah sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat. Defenisi ini penulis ambil setelah melihat beberapa defenisi yang diberikan ulama Hadîts, di antaranya:

v  Nuruddîn  Itr

وهو ما اضيف إلى الصحابة رضوان عليهم[[48]]

v  Ibn Shalah

وهو ما يروى عن الصحابة من أقوالهم وأفعالهم ولا يتجاوز به إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم[[49]]

Fuqaha’ Kurasan, menyebut yang mauqûf  ini dengan atsar, dan yang marfû’  dengan khabar. Namun mayoritas ulama menyebut keduanya dengan istilah Atsar.

Menurut mayoritas ulama Hadîts mauqûf  tidak berstatus marfû’, kecuali ada indikasi yang menunjukkan ke-marfû’-annya. Seperti Ucapan sahabat: “Kami melakukan begini di masa Rasul Allah SAW” atau pernyataan sahabat terkait dengan kesaksiannya menyaksikan turunnya wahyu kepada Rasul Allah.

  1. Maqtu’

Yang dimaksud dengan maqtu’ adalah sesuatu yang diriwayatkan dari tabi’in. Ini sesuai dengan defenisi yang disampaikan oleh Nuruddîn  itr

وهو ما اضيف إلى التابعى[[50]]

Satu hal yang mesti di garis bawahi terkadang ada yang memakai istilahmaqtu’ ini untuk menyebutkan Hadîts yang terputus sanadnya. Dan hal ini biasanya terjadi sebelum dibakukannya defenisi mauquf dan maqtu’ ini.

sumber :

https://koruptorindonesia.co.id/2020/04/28/forest-rescue-2-apk/

Anda mungkin juga suka...