Jenis-Jenis Pohon yang Hidup di Lahan Gambut
Umum

Jenis-Jenis Pohon yang Hidup di Lahan Gambut

Jenis-Jenis Pohon yang Hidup di Lahan Gambut

Jenis-jenis pohon yang hidup di lahan gambut biasanya jenis pohon yang memiliki kekhasan tersendri. Selain itu, jenis pohon tersebut memiliki nilai komersial yang tinggi dibandingkan dengan jennis pohon lainnya. Adapun jenis pohon yang dimaksud adalah diantaranya balangeran (Shorea balangeran), bintangur (Callophylum spp), bungur (Logerstroemia speciosa), jelutung rawa (Dyera lowii), kempas (Kompasia malaccensis), meranti rawa (Shorea pauciflora), nyatoh (Palaquium spp), perepat (Combretorcarpus rotundatus), pulai rawa (Alstonia pneumatophora), punak (Tetramerista glabra), ramin (Gonystylus bancanus), rengas (Melanorrhoea walichii), dan terentang (Campnosperma spp).

1. Pohon Balangeran (Shorea balangeran)

Balangeran (Shore balangeran) adalah salah satu jenis tumbuhan yang memiliki potensial yang cukup untuk dikembangkan di hutan rawa gambut dan hidupnya secara berkelompok (Martawijaya et al, 1989).
Pohon balangeran memiliki taksonomi menurut Suryanto et al. (2012) sebagai berikut:
Divisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Theales
Famili : Dipterocarpaceae
Genus : Shorea
Species  : Shorea balangeran
Balangeran tersebar di berbagai daerah di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Pohon balangeran biasanya dapat mencapai ketinggian 20-25 m dengan diameter 50 cm. Balangeran memiliki tajuk dengan bentuk setengah lingkaran tidak beraturan berwarna hijau putih kekuningan dan daun yag licin kaku berwarna putih kekuningan atau kuning keputihan (Wardani & Susilo, 2016). Selain itu, daun balangeran memiliki ujung yang lancip, pangkal daun yang bulat, permukaan bagian atas akan berwarna coklat jika mengering. Pohon balangeran memiliki kulit luar yang berwarna merah tua sampai hitam dengan warna kayu teras coklat-tua serta coklat-merah dan warna kayu gubal putih kekuningan sampai merah muda. Pohon balangeran memiliki tekstur yang agak kasar dan merata dengan serat lurus dan permukaan yang licin (Suryanto et al., 2012).

Anda mungkin juga suka...