Pendidikan

 Hadîts Hasan

 Hadîts Hasan

Pada awal perkembangan ilmu hadîts, pembagian hadîts berdasarkan kwalitas ini hanya di bagi menjadi dua yaitu hadits Shahîh dan hadits Dha’îf. Adapun yang mempopulerkan istilah hadîts Masyhûr ini untuk pertama kalinya adalah Abu ‘Îsa al-Tirmîdziy.

1)      Pengertian Hadîts Hasan

Secara bahasa Hasan merupakan Sifat Musyabahah dari الحسن dengan makna الجمال [[41]]

Menurut istilah Hadîts Hasan yaitu Hadîts yang memiliki sanad bersambung, diriwayatkan oleh perawi yang ‘âdil yang lebih rendah ke-dhâbit-annya, tanpa adanya Syâdz dan ‘illat.[[42]] 

2)      Macam-Macam Hadîts Hasan

Sebagaimana hadîts Shahîh, hadîts Hasan  dibagi juga menjadi dua macam yaitu hadîts Hasan li dzâtihi dan hadîts Hasan li ghairihi.

Hadîts Hasan li dzâtihi yaitu Hadîts Hasan yang sesuai dengan kriteria hadîts Hasan sebagaimana yang disebutkan di dalam defenisi di atas.

Hadîts hasan li ghairihi yaitu: hadits dha’if  yang menjadi hasan di karenakan faktor lain. Seperti hadîts Dha’if  yang menjadi hasan dikarenakan oleh adanya jalur-jalur lain yang menguatkan, dengan syarat dha’if  tersebut bukan dikarenakan perawinya banyak sekali lupa, banyak salah, tertuduh melakukan dusta ataupun fasiq.

  1. Hadits Mardud
  2. Hadîts Dha’îf

1)      Pengertian dan Pembagian Hadîts Dha’îf

Secara bahasa dha’îf  merupakan lawan dari kata القوي  (kuat).[[43]] Sedangkan secara Istilah Hadîts Dha’if  yaitu hadîts yang tidak memenuhi syarat-syarat Maqbul, atau hadîts yang tidak memenuhi syarat-syarat hadits Shahîh ataupun hadits Hasan

hadits Dha’îf  di bagi menjadi dua yaitu Dha’îf  yang disebabkan oleh ketidak bersambungan sanad dan yang disebabkan cacat pada matan.

2)      Hukum beramal dengan Hadîts Dha’îf

Mengenai beramal dengan hadîts Dha’îf   ini  terdapat tiga pendapat ulama yang berbeda-beda, di antaranya:

  1. a)Menurut Yahya ibn Mâ’in, Ibn Hazm, al-Bukhâriy dan Muslim hadîts Dha’îf  tidak dapat diamalkan secara mutlak.
  2. b)Menurut  Abu  Daud  dan  Imam  Ahmad  hadîts  Dha’îf    dapat diamalkan secara mutlak. Menurutnya beramal dengan hadîts Dha’îf  lebih baik dari pada memakai ra’yu
  3. c)Hadîts Dha’îf   dapat digunakan di dalam masalah  fadh-il al-a’mal dan mawâ’iz jika memenuhi syarat berikut:

Ø  Ke-Dha’îf -annya tidak bersangatan. Yaitu perawi tersebut bukan orang yang tertuduh berdusta atau terlalu sering melakukan kesalahan.

Ø  Hadîts Dha’îf  tersebut masuk cakupan hadits pokok yang bisa diamalkan

Ø  Ketika mengamalkannya tidak meyakini bahwa ia berstatus kuat, tetapi sekedar untuk kehati-hatian.

sumbe :

The Last Commando II 3.0 Apk + Mod for android

Anda mungkin juga suka...