Pendidikan

CONTOH PENERAPAN

Table of Contents

CONTOH PENERAPAN

Untuk memberikan gambaran tentang implementasi pembelajaran MR, berikut ini diberikan contoh pembelajaran pecahan di sekolah dasar (SD).  Pecahan di SD diinterpretasi sebagai bagian dari keseluruhan.  Interpretasi ini mengacu pada pembagian unit ke dalam bagian yang berukuran sama.  Dalam hal ini sebagai kerangka kerja siswa adalah daerah, panjang, dan model volume.  Bagian dari keseluruhan juga dapat diinterpretasi pada ide pempartisian suatu himpunan dari objek diskret. Dalam pembelajaran, sebelum siswa masuk pada sistem formal, terlebih dahulu siswa dibawa ke “situasi” informal.  Misalnya, pembelajaran pecahan dapat diawali dengan pembagian menjadi bagian yang sama (misalnya pembagian kue) sehingga tidak terjadi loncatan pengetahuan informal anak dengan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal). Setelah siswa memahami pembagian menjadi bagian yang sama, baru diperkenalkan istilah pecahan.  Ini sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional (bukan MR) di mana siswa sejak awal dicekoki dengan istilah pecahan dan beberapa jenis pecahan.

Jadi, pembelajaran MR diawali dengan fenomena, kemudian siswa dengan bantuan guru diberikan kesempatan menemukan kembali dan mengkonstruksi konsep sendiri.  Setelah itu, diaplikasikan dalam masalah  sehari-hari atau dalam bidang lain.

  1. PEMBAHASAN

  1. Perbedaan antara Matematika Realistik dengan Matematika  Tradisonal.

Pada Matematika Tradisional, matematika diletakkan sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung. Urutan-urutan materi seolah-olah telah menjadi konsensus masyarakat. Karena seolah-olah sudah menjadi konsensus maka ketika urutan dirubah sedikit saja protes dan penentangan dari masyarakat begitu kuat. Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif dan lain sebagainya.

Kekhasan lain dari pembelajaran matematika tradisional adalah bahwa pembelajaran lebih menekankan hafalan dari pada pengertian, menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian, lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan, bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas, urutan operasi harus diterima tanpa alasan, dan lain sebagainya sehingga dalam hal ini guru sangatlah aktif.

Berbeda dengan Matematika Realistik, Menurut Zulkardi (Ermayana: 2003) dalam matematika realistik guru hanya sebagai fasilitator belajar dan mampu membangun pengajaran yang interaktif. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk seeara aktif menyumbang pada proses belajar dirinya, dan secara aktif membantu siswa dalam menafsirkan persoalan riil dan tidak terpancang pada materi yang termaktub dalam kurikulum, melainkan aktif rnengaitkan kurikulum dengan dunia riil, baik fisik maupun sosial. Ada beberapa ciri khas yang menonjol pada pembelajaran matematika realistik. Ciri khas yang pertama adalah digunakannya masalah atau soal-soal yang berawal dalam kehidupan sehari-hari, yang kongkrit atau yang ada dalam alam pikiran siswa, sebagai titik awal proses pembelajaran. Ciri khas lain dalam pembelajaran realistik adalah siswa diperlukan sebagai peserta aktif dalam proses pembelajaran. Telah disebutkan diatas, pengajaran sering kali diinterpretasikan sebagai aktivitas yang dilakukan oleh guru, mula-mula ia mengenalkan objek, memberikan satu atau dua contoh kemudian menanyakan pertanyaan satu atau dua, kemudian meminta kepada siswa yang pasti untuk lebih aktif dengan memulainya melengkapi latihan-latihan soal dari buku. Umumnya pelajaran akan berakhir dan terorganisasi secara baik. Pelajaran berikutnya akan mengikuti pelajaran yang serupa. Akan tetapi pendidikan matematika yang pembelajaran bermula dari reality membuat pembelajaran menjadi semakin kompleks.

sumber :

https://dreamboxsaudi.org/alliance-apk/

Anda mungkin juga suka...