Seperti Apa Pasar Pariwisata Di Masa Datang

Seperti Apa Pasar Pariwisata Di Masa Datang

Seperti Apa Pasar Pariwisata Di Masa Datang

Seperti Apa Pasar Pariwisata Di Masa Datang
Seperti Apa Pasar Pariwisata Di Masa Datang

Jika Anda bergumul dalam bidang kepariwisataan, saya kira masalah kecenderungan pasar pariwisata merupakan hal yang patut menjadi perhatian terutama yang menyangkut asal negara kebangsaan, perilaku, selera, masa senggang, daya beli, intensitas perjalanan, dsb. yang sedikit banyak akan mempengaruhi persiapan produk wisata di destinasi dalam penerimaan mereka selaku tamu kita.
Di sisi lain, – sebagaimana kita ketahui, Indonesia sedang berupaya berbenah diri untuk menjadikan pariwisata sebagai “primadona” dalam tatanan ekonomi nasional sejak tahun 2014 yang lalu di mana Indonesia pada tahun 2019 ini berhasil mencapai kedudukan daya saing pariwisatanya ke peringkat 40 dari posisi 42 di tahun 2017. Dan, mengingat karakteristik produk pariwisata yang “terikat pada tempat”, maka salah satu upaya memperkenalkannya dengan cara yang dikenal sebagai Familiarizatin Trip, yaitu dengan mendatangkan Tour Operator / Travel Agent, para journalis wisata utk mengalami dan merasakan sendiri pelayanan serta fasilitas yang kita tawarkan di destinasi wisata kita.
Dalam kaitan ini, di bawah ini kami sajikan kecenderungan pasar pariwisata dunia di tahun-tahun mendatang dalam artikel yang ditulis oleh mantan ketua Care Tourism, Wuryastuti Sunario, dengan judul seperti berikut ini.

10 Global Travel Trends Tahun 2020

Oleh: Wuryastuti Sunario

Tanpa terasa kita sudah sampai ke penghujung tahun 2019, dan tahun 2020 sudah tampil di hadapan mata. Apakah kiranya yang akan terjadi di dunia perjalanan dan pariwisata pada tahun 2020?
Para pengamat kepariwisataan internasional menyatakan bahwa mesikpun terjadi perlambatan ekonomi dunia karena perang dagang antara Amerika dan China, sedang perangpun masih saja membara di berbagai belahan dunia, – tetapi keinginan orang berwisata justru semakin meningkat. Hal mana terjadi karena berwisata sudah menjadi kebutuhan hidup dan manusia merasa perlu menghirup udara segar dan menikmati lingkungan yang beda untuk menyegarkan kembali jiwa dan raga dan mengisi energi baru untuk meneruskan hidup yang saat ini rasanya begitu rumit.
Jadi apakah yang menjadi kecendurangan dan keinginan wisatawan internasional di tahun 2020 nanti?

REPORT THIS AD

Dalam artikel berjudul : Global Travel Trends 2020, Bigseventravel.com memilih 7 kecenderungan utama di antara 10 motivasi orang berwisata sbb:

1. Wisatawan memilih Destinasi yang Ramah Lingkungan. Karena semakin seringnya terjadi bencana alam seperti topan dahsyat yang memporak porandakan kota dan mengorbankan puluhan orang di Jepang maupun di kepulauan di Lautan Atlantik; serta meningkatnya suhu panas yang luar biasa mencapai rekor tertinggi yang pernah dialami; juga kebakaran hutan yang meluas yang menghanguskan kawasan hutan di California, Australia dan Amazon, disamping juga tanah longsor dan banjir di banyak kawasan dunia, – yang semuanya disebabkan oleh Pemanasan Global – maka generasi milenial dan generasi Z menyatakan: “Stop sudah! Manusia berhentilah merusak planet bumi ini supaya kami sebagai generasi penerus bisa menikmati hidup yang layak, demikian kata Greta Thunberg, gadis Swedia yang baru berumur 16 tahun itu di Sidang Umum PBB.

Maka wisatawan pun mulai semakin memperhatikan lingkungan, baik untuk turut melestarikan alam dan hewan langka, maupun untuk mencegah terjadinya polusi udara, darat dan laut yang dipenuhi sampah plastik. Maka dalam berwisatapun mereka memilih destinasi yang berkelanjutan, yang peduli lingkungan alam dan masyarakat, maka mereka semakin memilih perjalanan ecotourism. Jadi, destinasi maupun industri pariwisata Indonesia sebaiknya juga makin peduli lingkungan sambil menyiapkan tours ke alam bebas memasuki kawasan konservasi antara lain meninjau orang utan di Kalimantan, tarsius di Bitung, Komodo di NTT dan banyak lagi yang bisa disuguhkan menjadi Pesona Indonesia.

2. Uang Tunai semakin jarang terpakai. Dengan semakin meluasnya penggunaan e-money, kartu kredit, kartu debit dan kartu-kartu semacam Ovo, GoPay, atau AliPay di China, yang juga berlaku antar-negara, maka wisatawan juga mengurangi pemakaian uang tunai. Sedangkan membayar dengan kartu ini tidak saja berlaku di mall dan toko-besar, tetapi juga di kios dan warung tepi jalan. Jadi, UMKM di destinasi-destinasi Indonesia siap-siaplah bertransaksi Online supaya tidak kalah dengan pesaing Anda.

3. Berwisata sambil Bekerja, atau juga dikenal sebagai Nomadic Tourism. Trend ini makin meluas. Terutama karena generasi millenials menginginkan hidup bebas. Mereka mencari hidup yang penuh pengalaman baru, supaya mereka mampu menghasilkan karya yang kreatif dan inovatif. Maka untuk melayaninya, industri pariwisatapun juga membangun akomodasi semacam glamping, podcast, homestay dan ruangan kerja bersama (co-working space), dimana wisatawan cukup menyewa meja ditepi pantai untuk bekerja di laptop sambil menghirup udara laut segar dan sekali-sekali berenang, istirahat sambil surfing, atau mendaki gunung.
Ruang kerja bersama semacam ini sangat laku di Bali dan di Jakarta.

4. Berwisata untuk Mencari Inspirasi dan memperoleh pandangan dunia yang baru dan transformatif. Sebagaimana disebut di atas, wisatawan Now mencari pengalaman. Jadi mereka menjelajahi dunia dan mencari desa-desa terpencil dimana hidup masih asli dan otentik – serta bersih. Disini mereka ingin mendalami bagaimana manusia yang hidup sederhana bisa tetap merasa bahagia. Selain itu mereka juga ingin berpartisipasi membantu yang sakit atau mendidik anak-anak terlantar sambil membagi kertas tulis, buku dan alat gambar. Wisata demikian disebut juga Voluntourism. Mereka juga senang ke destinasi dimana mereka belajar yoga dan meditasi. Voluntourism sangat diminati wisatawan ke Sumba dan mengunjungi desa wisata.

Sumber : https://blog-fiesta.com/