Tempat-tempat Sujud Sahwi

Tempat-tempat Sujud Sahwi

Tempat-tempat Sujud Sahwi

Tempat-tempat Sujud Sahwi
Tempat-tempat Sujud Sahwi

1. Apabila sujud sahwi disebabkan oleh kelebihan

maka sujud sahwi dilaksanakan sehabis salam. Ini didasarkan pada hadits-hadits diberikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلَاتَيْ الْعَشِيِّ الظُّهْرَ أَوْ الْعَصْرَ قَالَ فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ الْمَسْجِدِ فَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَيْهِمَا إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى يُعْرَفُ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ ثُمَّ خَرَجَ سَرْعَانُ النَّاسِ وَهُمْ يَقُولُونَ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ وَفِي النَّاسِ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَهَابَاهُ أَنْ يُكَلِّمَاهُ فَقَامَ رَجُلٌ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّيهِ ذَا الْيَدَيْنِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَسِيتَ أَمْ قُصِرَتْ الصَّلَاةُ قَالَ لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ الصَّلَاةُ قَالَ بَلْ نَسِيتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْقَوْمِ فَقَالَ أَصَدَقَ ذُو الْيَدَيْنِ فَأَوْمَئُوا أَيْ نَعَمْ فَرَجَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى مَقَامِهِ فَصَلَّى الرَّكْعَتَيْنِ الْبَاقِيَتَيْنِ ثُمَّ سَلَّمَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ وَكَبَّرَ ثُمَّ كَبَّرَ وَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ ثُمَّ رَفَعَ وَكَبَّرَ قَالَ فَقِيلَ لِمُحَمَّدٍ سَلَّمَ فِي السَّهْوِ فَقَالَ لَمْ أَحْفَظْهُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَلَكِنْ نُبِّئْتُ أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ قَالَ ثُمَّ سَلَّمَ

“Dari Abu Hurairah RA, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mengerjakan shalat bersama kami pada salah satu shalat di siang hari (Ashar atau Dzuhur), ternyata ia spesialuntuk shalat dua rakaat saja dan pribadi salam. Beliau kemudian pergi ke sebuah kayu yang melintang di masjid, kemudian bersandar seakan-akan sedang marah. Tangan kanannya diletakkan di tangan kirinya sambil mengeramkan jari-jarinya, sedang pipinya diletakkan di atas telapak kiri pecahan luar. Orang-orang yang ingin bergegas kemudian keluar dari pintu-pintu masjid sambil berkata, ‘Shalat diqashar, shalat diqashar.’ Di antara orang banyak itu ada Abu Bakar dan Umar, keduanya merasa segan untuk menanyakan hal itu. Kebetulan diantara mereka terdapat seseorang yang berjulukan Dzulyadain, kemudian dia bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah anda lupa ataukah memang shalat diqashar?’ Beliau bersabda, Aku tidak lupa, dan shalat juga tidak diqashar,’ kemudian ia bertanya, ‘Betulkah apa yang dikatakan Dzulyadain itu? ‘ Para sobat erat menjawaban, ‘Benar.’ Beliau pun lantas maju kembali ke tempatnya tiruanla dan menuntaskan belum sempurnanya yang tertinggal, kemudian salam. Sesudah salam, ia bertakbir, sujud sebagaimana sujud biasa, atau agak panjang sedikit, kemudian mengangkat kepala dan bertakbir. Seterusnya ia bertakbir lagi, kemudian sujud menyerupai sujud biasa, atau agak lama, kemudian mengangkat kepalanya dan bertakbir. Ayyub (perawi Hadits ini) berkata, ‘Lalu ditanyakan kepada Muhammad bin Sirin (perawi Hadits ini), ‘Apakah ia salam dalam (sujud) sahwi?’ Dia menjawaban, ‘…aku tidak menghafalnya dari Abu Hurairah, tapi saya didiberitahukan bekerjsama Imran bin Hushain berkata, “Beliau salam.’”” {Shahih: Muttafaq Alaih}

2. Apabila sujud sahwi disebabkan oleh belum sempurnanya

maka sujud sahwi dilakukan sebelum salam
sepertiyang hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Buhainah Rasullah saw bersabda :

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
“Sesudah ia menyempurnakan shalatnya, ia sujud dua kali. Ketika itu ia bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ
“Sesudah ia menyempurnakan shalatnya, ia sujud dua kali. Ketika itu ia bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)

فَلَمَّا أَتَمَّ صَلَاتَهُ سَجَدَ سَجْدَتَيْنِ فَكَبَّرَ فِي كُلِّ سَجْدَةٍ وَهُوَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ

“Sesudah ia menyempurnakan shalatnya, ia sujud dua kali. Ketika itu ia bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari dan Muslim )
Hikmah dari tiruana ini adalah, ketika bilangan sholat kurang, maka tindakan yang bijak ialah mengganti belum sempurnanya shalat sebelum keluar darinya, dan belum sempurnanya ini sanggup ditebus dengan sujud sahwi.

3. Kegalauan. Ini memiliki dua kondisi

a. Jika dia mantap pada tarjih (sesuatu yang sanggup dikokohkan salah satunya), maka sujud sahwi dilakukan sehabis salam. Hai ini berdasarkan dari hadits ibnu Mas’ud Rasulullah saw., bersabda : “Apabila seseorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, hendaklah ia mereview yang benar, maka sempurnakannya, kemudian lakukanlah salam, selanjutnya sujud sahwilah”

b. Jika dia mantap pada apa yang dia yakini, maka ia melaksanakan sujud sahwi sebelum salam. Nabi saw., bersabda :
اِذَاشَكَّ اَحَدُكُمْ فِى صَلاَتِهِ، فَلَمْ يَدْرِكَمْ صَلَّى، ثَلاََثًا اَمْ اَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ اشَكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَااسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ اَنْ يُسَلِّمَ،

“Apabila seseorang diantara kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui apakah sudah shalatnya tiga rakaat atau empat rakaat, maka hendaknya ia meninggalkan keraguan dan kerjakanlah atas apa yang ia yakini, kemudian sujud dua kali sebelum salam”.

Baca Juga: