Penjelasan Mengenai Sujud Sahwi

Penjelasan Mengenai Sujud Sahwi

Penjelasan Mengenai Sujud Sahwi

Penjelasan Mengenai Sujud Sahwi
Penjelasan Mengenai Sujud Sahwi

Arti Sujud Sahwi

Sujud sahwi ialah ungkapan dua sujud di final sholat sebelum atau sehabis salam, tujuannya untuk menambah cela yang terjadi dalam shalat, atau sujud yang dilakukan oleh orang yang shalat untuk menggantikan kesalahan yang terjadi dalam shalatnya lantaran lupa.

Sebab-sebab Terjadinya Sujud Sahwi

Adapun sebab-sebab terjadinya atau dilakukannya sujud sahwi dalam shalat ada tiga hal yaitu :
Melakukan kelebihan, menyerupai rukuk dua kali, ini terbagi menjadi dua : kelebihan perbuatan dan kelebihan ucapan. Hal ini sudah dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jama’ah dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi saw.”Pada suatu ketika ia shalat Dhuhur, kemudian ditanya: ‘Apa kah rakat’at shalat ini memang ditambah?’ Ujar beliau: ‘Mengapa demikian’? Kata orang-orang itu: ‘Anda sudah melaksanakan shalat lima raka’at’. Maka ia pun sujud dua kali sehabis memdiberi salam itu’.”
Kekurangan, seperti lupa mengucapkan subhaana rabbil ‘adzim ketika rukuk.

Macam Kekurangan

ini terbagi menjadi tiga :

1. Apabila belum sempurnanya itu terjadi pada rukuk shalat, maka ia harus menunaikan rukuk yang dia tinggalkan, kemudian melaksanakan sujud sahwi. hal ini berdasarkan pada hadits Nabi :
Dari Abu Huraerah ra. Bahwasanya Nabi mengucapkan salam sehabis rakat kedua pada dikala shalat dzuhur dan ashar. Mereka memdiberitahu beliau, kemudian ia menyempurnakan shalatnya”.

Baca Juga: Rukun Iman

2. Apabila belum sempurnanya itu terjadi pada kewajiban shalat dan sudah melewati posisinya, maka dianggap gugur dan sanggup digantikan dengan sujud sahwi.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Bujainah, diceritakan :
“Bahwasanya Rasulullah saw., berdiri sehabis dua rakat dalam sholat dzuhur, ia tidak duduk dan meninggalkan tasyahud awal. Nabi saw tidak kembali kepada (posisi tasyahudnya) akan tetapi ia melaksanakan sujud syahwi (sujud lantaran lupa)”

3. Apabila belum sempurnanya itu terjadi pada perkara yang sunnah di dalam shalat, contohnya dia membaca surah Al-fatihah dalam rakat pertama, kemudian dia ruku tanpa membaca surah lain sehabis membaca fatihah, maka ia tidak usah kembali bediri untuk membacanya dan sujud sahwi baginya tidak wajib. Karena sujud sahwi untuk sesuatu yang wajib, hukumnya wajib, dan untuk sesuatu yang sunnah hukmnya juga sunnah.
Merasa ragu dalam shalat, artinya ketika ia merasa ragu, apakah ia sudah shalat tiga rakaat atau empat rakaat?

Macam Kegalauan

Kegalauan ini terbagi tiga macam yaitu :
Kegalauan yang selalu menyertai manusia, kagalauan menyerupai ini tidak diperlihatkan dan tidak dianggap
Kegalauan yang terjadi sehabis mengerjakan sholat atau ibadah lainnya.Kegalauan semacam ini tidak dianggap, lantaran intinya ibadah tersebut dikerjakan tanpa ada kesalahan. Adapun jikalau ia yakin bahwa ibadah tersebut ada yang salah, maka ia harus mengerjakannya kembali sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah ketika ia lupa dua rakaat shalat dzuhur atau azhar.

Kegalauan yang terjadi disela-sela ibadah atau shalat. Kegalauan ini terjadi menjadi dua macam :
Kegalauan yang sanggup ditarjih (dikokohkan salah satunya). Maka dalam hal ini ia memantapkan yang raajih (yang kokoh menurutnya), menyerupai bila seorang ragu apakah ia kentut atau tidak?
Kegalauan tidak sanggup ditarjih. Maka dalam hal ini ia memantapkan bilangan yang paling sedikit, lantaran itulah yang ia yakini. Bila seseorang bimbang apakah dia shalat dua rakaat ataukah tiga rakaat, maka hendaklah dia memantapkan yang dua rakaat, lantaran itulah yang dia yakini.

“Dari Abdurrahman bin ‘Auf katanya: “Saya dengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Jika salah seorang di antaramu ragu dalam shalatnya, sampai ia tidak tahu, apakah gres seraka’at ataukah sudah dua raka’at, maka baiknya diputuskannya seraka’at saja. Jika ia tidak tahu apakah dua atau sudah tiga raka’at, baiknya diputuskannya dua raka’at. Dan jikalau tak tahu apakah tiga atau sudah empat raka’at, baiknya diputuskannya tiga raka’at, kemudian hendaklah ia sujud bila shalat selesai di waktu masih duduk sebelum memdiberi salam, yaitu sujud Sahwi sebanyak 2 kali’.” (H.R.Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi yang menyatakan sahnya).

“Dari Abu Sa’id al-Khudri, katanya: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Apabila slah seorang diantaramu resah dalam shalatnya sampai tak tahu apakah sudah tiga ataukah empat raka’at, maka hendaklah ia menghilangkan keraguannya dan menetapkan saja apa yang sudah diyakininya, kemudian sujud dua kali sebelum salam. Sekiranya ia sudah melaksanakan lima raka’at maka sujud itulah yang menggenapkan shalatnya, dan sekiranya gres cukup empat raka’at, maka sujudnya itu ialah untuk menjengkelkan setan’.” (H.R. Ahmad dan Muslim).
Kedua hadits ini menjadi alasan bagi pendapat jumhur ulama bahwa seseorang yang resah dalam bilangan raka’at, hendaklah ia menetapkan saja bilangan yang lebih sedikit yang diyakini, kemudian ia melaksanakan sujud sahwi.