Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pendidikan

Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pendidikan
Kepala Sekolah Sebagai Manajer Pendidikan

 

Kepala sekolah sebagai manajer merupakan

motor penggerak, dan menentukan arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya dapat direalisasikan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kepala sekolah dituntut untuk meningkatkan efektifitas kinerjanya. Dengan demikian manajemen pendidik-kan akan dapat memberikan hasil yang memuaskan. Kinerja kepemimpinan kepala sekolah sebagai manajer adalah segala upaya yang dilakukan dan hasil yang dapat dicapai oleh kepala sekolah di sekolahnya untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.

Sehubungan dengan itu kepala sekolah

sebagai manajer pendidikan dapat dilihat dari: (1) mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pebelajaran dengan baik, lancar dan produktif, (2) dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan, (3) mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan masyarakat sehingga dapat melibatkan mereka secara aktif dalam rangka mewujudkan tujuan sekolah dan pendidikan, (4) berhasil menerapkan prinsip kepemimpinan yang sesuai dengan tingkat kedewasaan guru dan pegawai di sekolah, (5) bekerja dengan tim manajemen serta, (6) berhasil mewujudkan tujuan sekolah secara produktif sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Demikian juga untuk dapat efktifitas dan efisiensi

manajemen pendidikan dapat terwujud maka seorang kepala sekolah menurut Stoner yang dikutif oleh Wahjosumidjo (2008) mampu melaksanakan fungsi manajemen sebagai berikut: (1) Kepala sekolah harus mampu bekerja dengan atau melalui orang lain. Jadi orang lain yang dimaksudkan disini adalah para guru, siswa, dan pegawai adminitrasi, termasuk atasan kepala sekolah dalam hal ini adalah pemerintah. Dalam fungsi seperti ini kepala sekolah berperilaku sebagai saluran komunikasi di lingkungan sekolah. (2) Kepala sekolah harus bertanggungjawab dan mempertanggungjawabkan terhadap keberhasilan atau kegagalan sebagai seorang manajer. Bertangungjawab atas segala tindakan yang dilakukan oleh bawahan. Perbuatan yang dilakukan oleh guru, siswa, staf dan orang tua tidak dapat lepas dari tanggungjawab kepala sekolah. (3) Kepala sekolah harus mampu menghadapi berbagai pers
oalan.
Dengan segala keterbatasannya seorang kepala sekolah harus dapat mengatur pemberian tugas secara tepat. Bahkan ada kalanya seorang kepala sekolah harus dapat menentukan suatu prioritas bilamana terjadi konflik antara kepentingan bawahan dengan kepentingan sekolah. (4) Kepala sekolah harus memiliki kemampuan berpikir analistik dan konsepsional. Kepala sekolah di dalam memecahkan suatu permasalahan harus melalui suatu analisis, kemudian menyelesaikan persoalan dengan suatu solusi yang feasible. Kepala sekolah harus mampu melihat setiap tugas sebagai suatu kseluruhan yang saling berkaitan, dan memandang persoalan yang timbul sebagai bagian yang terpisahkan dari suatu kesluruhan. (5) Kepala sekolah harus mampu sebagai mediator. Kepala sekolah harus turun tangan sebagai penengah di sekolah, sekolah sebagai suatu organisasi tidak akan terelakan dari adanya suatu perbedaan-perbedaan dan pertentangan-pertentangan atau konflik satu dengan yang lainnya sebagai warga sekolah. (6) Kepala sekolah harus sebagai politisi.

Sebagai kepala sekolah harus selalu berusaha

untuk meningkatkan tujuan sekolah serta mengembangkan program jauh ke depan. Untuk itu sebagai seorang politisi kepala sekolah harus dapat membangun hubungan kerja sama melalui pendekatan persuasi dan kesepakatan. Peran politisi atau kecakapan politisi seorang kepala sekolah dapat berkembang secara efektif apabila memiliki prinsip jaringan saling pengertian terhadap kewajiban masing-masing, terbentuk suatu aliansi atau kualisi seperti organisasi profesi PGRI, K3S dll, terciptanya kerja sama dengan berbagai pihak, sehingga aneka macam aktivitas dapat dilaksanakan. (7) Kepala sekolah harus mampu sebagai seorang diplomat. Kepala sekolah adalah wakil resmi sekolah yanhg dipimpinnya. Dalam peran sebagai diplomat berbagai macam pertemuan akan diikuti. (8) Kepala sekolah sebagai pengambil keputusan yang sulit. Tidak ada suatu organisasi apapun yang berjalan mulus tanpa problem. Demikian pula sekolah sebagai suatu organisasi tidak luput dari problem, sperti biaya, pegawai, perbedaan pendapat, dll. Apabila terjadi persoalan seperti tersebut kepala sekolah diharapkan berperan sebagai orang yang dapat menyelesaikan persoalan yang sulit tersebut.
Demikian beberapa tugas dan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang manajer dalam hubungan ini seorang kepala sekolah. Lebih dari itu tugas dan kemampuan tersebut harus pula didukung dengan beberapa keterampilan, yaitu keterampilan konseptual, keterampilan hubungan manusiawi, dan keterampilan teknik (Pidarta. 1986, Wahjosumidjo. 2008, Balanchard. dkk. 1986). Lebih dari itu dijelaskan bahwa pada dasarnya setiap pemimpin tersebut sebagai manajer sudah memilikinya. Persoalannya keterampilan yang manakah yang harus lebih atau paling dominan didalam mengaplikasikannya tergantung dari posisi seorang manajer tersebut, apakah posisinya sebagai manajer puncak, manajer menengah, dan manajer supervisor. Kalau seorang pemimpin tersebut posisinya sebagai manajer puncak mungkin yang paling menonjol harus dimiliki dan diaplikasikan adalah keterampilan konseptual, apabila seorang pemimpin tersebut posisinya sebagai manajer menengah maka yang harus dominan dimiliki dan diaplikasikan adalah keterampilan hubungan manusia, dan kalau posisi pemimpin tersebut sebagai supervisor maka yang harus dimiliki dan diaplikasikan secara lebih dominan adalah keterampilan teknis.
Kemudian secara lebih rinci dijelaskan oleh Wahjosumidjo (2008) bahwa masing-masing keterampilan tersebut mempunyai beberapa indikator. Keterampilan konseptual misalnya terditi dari: (1) kemampuan anlisis, (2) kemampuan berpikir rasional, (3) ahli atau cakap dalam berbagai macam konsepsi, (4) mampu menganalisis berbagai kejadian, serta mampu memahami berbagai kecendrungan, (5) mampu mengantisipasikan perintah, (6) mampu mengenali berbagai macam kesempatan dan problem sosial. Keterampilan hubungan manusiawi terdiri dari: (1) kemampuan untuk memahami perilaku manusia dan proses kerjasama, (2) kemampuan untuk memahami isi hati, sikap dan motif orang lain, mengapa mereka berkata dan berperilaku, (3) kemampuan untuk berkomunikasi secara jelas dan efektif, (4) kemampuan untuk menciptakan kerjasama yang efektif, kooperatif, praktis dan diplomatis, (5) mampu berperilaku yang dapat diterima.
Kemudian keteram-pilan teknis terdiri dari: (1) menguasai tentang merode, proses, prosedur dan teknik untuk melaksanakan suatu kegiatan khusus, dan (2) kemampuan untuk memanfaatkan serta mendayagunakan sarana, peralatan yang diperlukan dalam mendukung kegiatan yang bersifat khusus tersebut. Dengan rumusan yang agak berbeda Danim (2006) menjelaskan masing-masing keterampilan tersebut sebagai berikut. Keterampilan teknis adalah keteram-pilan dalam menerapkan pengetahuan teoritis kedalam tindakan praktis, kemampuan menyelesaikan tugas dengan baik dan sistematis.
Keterampilan teknis ini biasanya dominan dimiliki oleh tenaga kerja bawahan, yang indikator mencakup: (1) keterampilan dalam menyusun laporan pertanggungjawaban, (2) keterampilan menyusun program tertulus, (3) keterampilan, (3) kamampuan untuk membuat data statistik sekolah, (4) keterampilan merealisasikan keputusan, (5) keterampilan mengetik, (6) keterampilan menata ruang, (7) keterampilan membuat surat. Keterampilan hubungan manusiawi adalah keterampilan untuk menempatkan diri dalam kelompok kerja dan keterampilan menjalin komunikasi yang mampu menciptakan kepuasan semua warga sekolah. Hubungan manusiawi ini akan melahirkan situasi kooperatif dan menciptakan kontak manusiawi diantara para warga sekolah.
Hubungan manusiawi ini mencakup: (1) kemampuan menempatkan diri dalam kelompok, (2) kemampuan untuk menciptakan kepuasan pada diri bawahan, (3) sikap terbuka pada kelompok kerja, (4) kemampuan mengambil hati melalui keramah tamahan, (5) penghargaan terhadap nilai-nilai etis, (6) pemerataan tugas dan tanggungjawab, dan (7) itikad baik, adil, menghormati, dan menghargai orang lain. Kemudian keterampilan konseptual yang dimaksudkan adalah kecakapan untuk memformulasikan pikiran, memahami teori-teori, melakukan aplikasi, melihat kecendrungan berdasarkan kemampuan teoritis yang dibutuhkan di dalam dunia kerja.
Kepala sekolah dituntut memahami konsep dan teori yang erat hubungannya dengan pekerjaan. Demikian juga indikator dari ketrampilan konseptual tersebut disebutkan adalah mencakup: (1) pemahaman terhadap teori secara luas dan mendalam, (2) kemampuan mengorganisasikan pikiran, (3) keberanian mengeluarkan pendapat secara akademik, dan (4) kemampuan untuk mengkorelasikan bidang ilmu yang dimiliki dengan berbagai situasi. Dalam hubungan dengan keterampilan kepala sekolah Bordman, dkk (1961) menyatakan bahwa seorang kepala sekolah harus mampu mengembangkan kemampuan profesional guru, mengembangkan program super-visi, dan merangsang guru untuk berpartisipasi aktif di dalam usaha mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.
Dengan berdasarkan pada beberapa keterampilan yang dimiliki oleh kepala sekolah sebagai manajer pendidikan, maka kepala sekolah harus mampu dan bisa membagi habis semua tugas kepada guru dan personil sesuai dengan tingkat pengetahuan dan kemampuan masing-masing. Kepala sekolah harus mampu membimbing semua personil agar mampu melaksanakan tugas seoptimal mungkin secara efektif dan efisien.