Biografi KH. Abdurrahman Wahid

Biografi KH. Abdurrahman Wahid

Biografi KH. Abdurrahman Wahid

Biografi KH. Abdurrahman Wahid
Biografi KH. Abdurrahman Wahid

Dari tahun 1959-1963, Abdurrahman Wahid menimba ilmu di muallimat Bahrul ulum, Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur. Setelah ia mondok di krapyak, Yogyakarta, dan tinggal di rumah seorang tokoh NU terkemuka, KH. Ali Maksum. Selanjudnya pada tahun 1964, ia berangkat ke mesir untuk menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, kairo, hingga tahun 1966. Selama belajar di mesir, Abdurrahman Wahid banyak menggunakan waktunya untuk menunton film-film terbaik perancis, ingris dan amerika, serta membaca buku di perpustakaan universitas Al-Azhar, kairo. Hal ini ia lakukan, karena ia merasa kecewa dengan system pengajaran di Al- Azhar, yang di nilainya sudah usang.

Karena merasa tidak puas dengan sistem pengajaran di Al-azhar

maka pada tahun 1966-1970 ia meninggalkan kairo untuk melanjutkan studinya di fakultas seni Universitas Banghdat. Selama belajar di Universitas Banghdat inilah, Abdurrahman Wahid merasa puas dan telah menemukan apa yang sesuai dengan dengan panggilan jiwanya yang modernis. Perkuliahan di universitas Baghdad ini ia tempuh dengan menyelesaikan ujian strata 2 (S2). Namun sebelum ia munempuh ujian tesisnya, profresor pembimbingnya meninggal dunia, sehingga ujian tesisnya itu tidak dapat dilanjutkan.

Di Universitas Baghdad inilah ia mengenal karya-karya tokoh terkenal seperti Emil Durkheim

bahkan selama di Universitas Baghdad inilah, ia menemukan informasi sejarah lengkap tentang Indonesia. Selain itu, ia berkesempatan membaca karya-karya sastra dan budaya arab serta filsafat dan pemikiran sosial eropa.

Melalui berbagai karya ilmiah dalam berbagai bidang ilmu agama dan ilmu modern

Abdurrahman Wahid mulai tampil sebagai seorang muslim yang modernis. Ia sudah mulai mengajukan gagasan tentang perlunya penafsiran kembali ajaran Islam, serta mengubah pendidikan dan pengajaran Islam yang sesuai dengan tantangan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selama belajar di timur tengah ini

ia sempat menjadi Ketua Ikatan Mahasiswa Indonesia di Timur Tengah yang berlangsung pada tahun 1967-1970. Setelah selesai menempuh pendidikan di timur tengah, Abdurrahman Wahid melanjutkan pendidikan doktornya di Eropa. Namun karena terhambat oleh kendala bahasa Eropa, pendidikan doktornya ini tidak dapat dilanjutkan. Akhirnya kesempatan tersebut ia pergunakan untuk keliling Eropa sambil belajar bahasa Prancis, Jerman dan Inggris.

Sekembalinya ke Indonesia

Abdurrahman Wahid kembali ke pesantren tebu ireng Jombang. Karena kemampuannya dalam bidang ilmu agama Islam dan ilmu pengetahuan umum lainnya, Gus Dur terjun dalam dunia jurnalistik sebagai kaum „cendekiawan? muslim yang progresif yang berjiwa sosial demokrat. Pada masa yang sama, Gus Dur terpanggil untuk berkeliling pesantren dan madrasah di seluruh Jawa. Hal ini dilakukan demi menjaga agar nilai-nilai tradisional pesantren tidak tergerus, pada saat yang sama mengembangkan pesantren. Hal ini disebabkan pada saat itu, pesantren berusaha mendapatkan pendanaan dari pemerintah dengan cara mengadopsi kurikulum pemerintah. pada tahun 1972-1974, ia diangkat menjadi dosen dan sekaligus menjabat Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy?ari, Jombang. Selanjutnya pada tahun 1974 hingga 1980, ia juga diberi amanat oleh pamannya, K.H Yusuf Hasyim, untuk menjadi sekretaris umum pesantren Tebu Ireng, Jombang.

Dalam waktu yang bersamaan dengan jabatannya di pesantren tersebut

pada tahun 1979 dan seterusnya, ia juga sudah mulai melibatkan diri secara aktif dalam kepengurusan Nahdatul Ulama dengan jabatan sebagai Katib Awal Syuriah Pengurus Besar Nahdatul Ulama.  Kegiatan lainnya yang dilakukan oleh Abdurrahman Wahid adalah bertindak sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Ciganjur, Jakarta Selatan, mulai tahun 1979 sampai dengan sekolah, pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Denanyar, Jombang, tahun 1996 dan sebagai Anggota Dewan Kehormatan Universitas Saddam Husein, Baghdad, dan selanjutnya sebagai Manggala Badan Pembina Pelaksana Pendidikan Pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila (BP7).

Baca juga artikel: