Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar
Temuan Mahasiswa, Sampah Plastik Jadi Bahan Bakar

Limbah plastik yang berceceran dan berpotensi mengganggu lingkungan di tempat-tempat

pemrosesan akhir sampah (TPA), di tangan mahasiswa jurusan Ilmu dan Teknologi Lingkungan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga sebagai bahan bakar berupa bensin dan solar dan bisa digunakan untuk motor dan mobil.

Inovasi pembuatan bahan bakar dengan metode thermal cracking yaitu pembakaran pada suhu tinggi 300-400 derajat celcius tanpa oksigen. Hasilnya, dalam pembakaran satu kilogram plastik menghasilkan satu liter bahan bakar berupa bensin dan solar. Inovasi ini dimaksudkan sebagai partisipasi bagaimana mengatasi masalah persampahan global.

Mahasiswa yang menemukan itu terdiri atas Edo Dwi Praptono, Ade Imas Agusningtya,

Hilmi Putra Pradana, Ledy Theresia, dan Lola Sara. Edo Dwi Praptono mengatakan, jenis plastik yang dapat digunakan cukup melimpah, seperti jenis plastik PP (gelas air kemasan), HDPE (botol sampo), PETE (botol air kemasan), other (bungkus makanan ringan), dan sampah plastik lain yang dapat dengan mudah ditemukan di aktivitas sehari-hari di masyarakat.

Dengan pemanfaatan sampah plastik ini maka keberlanjutan proses konversi tetap terjaga karena jumlah sampah plastik yang sangat melimpah dan terus meningkat setiap harinya. Hasil dari konversi sampah plastik dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan bermotor seperti motor, mobil, serta dapat juga digunakan untuk penggerak alat-alat pertanian.

’’Konversi sampah plastik menjadi bahan bakar ini dapat dijadikan solusi

untuk mengatasi tingginya timbunan sampah plastik di TPA dan digunakan sebagai alternative bahan bakar pengganti bahan bakar fosil. Bayangkan saja jika seluruh TPA di Indonesia melakukan konversi seperti ini, maka Indonesia akan terbebas dari permasalahan sampah plastik global,” ucap Edo.

Oleh mereka berlima, inovasi yang kemudian dituangkan dalam proposal Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian Eksakta (PKM-PE) itu telah berhasil lolos penilaian Dikti dan berhak atas dana hibah pengembangan dalam program PKM Kemenristekdikti 2016-2017. (*)

 

Baca Juga :