Pembahasan Tentang Talak

Pembahasan Tentang Talak

Pembahasan Tentang Talak

Pembahasan Tentang Talak
Pembahasan Tentang Talak

HUKUM TALAK

Ulama fikih ( fukaha) berpendapat bahwa talak dibagi kepada dua macam yaitu :
a. Wajib. Apabila terjadi peselisihan antara suami istri, sedangkan dua hakim yang mengurus perkara keduanya sudah memandang perlu supaya keduanya bercerai
b. Talak sunni, adalah talak yang dijatuhkan suami sesuai dengan petunjuk yang disyariatkan Islam, yaitu :
1) Menalak isteri harus secara bertahap (dimulai dengan talak satu, dua dan tiga) dan diselingi rujuk.
2) Isteri yang ditalak itu dalam keadaan suci dan belum digauli dan Isteri tersebut telah nyata-nyata dalam keadaan hamil.
Talak bid’i adalah talak yang dijatuhkan suami melalui cara-cara yang tidak diakui syariat islam yaitu:
1) Menalak isteri dengan tiga kali talak sekaligus,
2) Menalak isteri dalam keadaan haidh,
3) Menalak isteri dalam keadaan nifas, dan Menjatuhkan talak isteri dalam keadaan suci tetapi telah digauli sebelumnya, padahal kehamilannya belum jelas.

2. Makruh. Yaitu Hukum Asal dari talak itu sendiri
Ulama fikih juga sepakat menyatakan bahwa menjatuhkan talak bid’i hukumnya haram dan pelakunya mendapat dosa. Akan tetapi apabila terjadi juga seperti tersebut di atas, maka jumhur mengatakan talaknya tetap jatuh. Alasan mereka adalah talak bid’i itupun termasuk dalam keumuman ayat-ayat yang berbicara tentang talak, seperti surah al- Baqarah ayat 229-230, at-Talak ayat 1-2, dan hadits Nabi SAW dalam kasus Abdullah bin Umar yang menjatuhkan talak terhadap isterinya yang sedang haid. Rasulullah bersabda “Suruh dia kembali pada isterinya sampai ia suci, kemudian suci, lalu suci lagi setelah itu jika ia ingin menceraikan isterinya itu, dan jika ingin menalak juga lakukanlah ketika itu (ketika suci belum digauli ( H.R. Muslim, Abu Dawud , Ibnu Majash dan an Nasa’i ) ( Abdul Azizi Dahlam et.al 1996:1783)Pengertian Talak Dalam Hukum Positif.

LAFADZ TALAK

Kalimat yang dipakai atau yang disahkan Ulama’ ada 2 macam yaitu

1. Sarih ( Terang )

yaitu kalimat yang tidak ragu-ragu lagi bahwa yang dimaksud adalah memutuskan tali perkawinan seperti kata sis suami “Kamu Tertalak” atau “Saya Ceraikan Kamu” Kalimat tersebut tidak perlu dengan Niat. Jadi apabila contoh kalimat tersebut dilafazkan oleh suami terhadap istrinya Niat atau tidak berniat maka keduanya harus bercerari kecuali kalimat tersebut berupa HIKAYAT

2. Kinayah (sindiran)

yaitu kalimat yang masih ragu-ragu seperti kata suami “pulanglah engkau kerumah keluargamu” atau “pergi dari sini” dsb. Kalimat sindiran ini tergantung Niat si suami, kalu kalimat tersebut diniatkan utuk talak maka kuduanya harus bercerai.

Sumber: https://www.dutadakwah.co.id/khutbah-hari-raya-idul-fitri-menjaga-hati-tiga-pesan-ramadhan/