Gangguan Kandung Kemih

Gangguan Kandung Kemih

Gangguan Kandung Kemih

Gangguan Kandung Kemih
Gangguan Kandung Kemih

Sistitis

Sistitis adalah radang pada kandung kemih. Paling sering ditemukan pada wanita, dalam bentuk akut maupun kronik. Kebanyakan sistitis disebabkan oleh infeksi asendens melalui uretra, tetapi juga disebabkan oleh infeksi desedens dari saluran kemih atas.
Gejala dan tanda klasik terdiri dari miksi sering yang tidak dapat ditunda, disuria, nikturia dan kadang hematuria. Tetapi keadaan patologik seperti sistolitiasis, tumor kandung kemih, atau hipertropi prostate juga menimbulkan sindroma dengan gejala dan tanda ini. Sistitis umumnya disebabkan kuman tinja dari kulit perineun dan vulva pada wanita karena uretranya pendek (2-3 cm). Jika arus kemih cukup banyak, lancar dan tidak terhalang infeksi biasanya tidak terjadi, tetapi bila ada statis, kuman dapat berkembang dan menyebabkan sistitis. Selain itu sistitis juga dapat disebabkan karena infeksi hematogen.

Faktor penyebab sistitis

– Obstruksi pengeluaran kemih
  • Obstruksi prostat
  • Obstruksi leher kandung kemih
  • Struktur uretra
  • Katup uretra
– Keter menetap kandung kemih
– Koitus (sistitis bulan madu perempuan)
– Sistolitiasis
– Divertikel kandung kemih
– Kandung kemih neuropatik
– Fistel vesikovaginal atau vesikokolon
Sistitis kronik sering kambuh dan menyebabkan gangguan miksi tanpa gejala atau tanda akut biasanya ada perasaan kulit perut bawah kurang enak, mungkin terdapat inkontinesia pada orang tua, enuresis pada anak, dan nyeri tumpul samar tanpa penyebab yang jelas.

Penanggulangan

Terapi dapat berupa tindakan untuk mengeluarkan dan menghindari penyebab atau faktor sebab dan pemberian antibiotik atas dasar biakan kuman kemih yang dilakukan dari kemih tengah alir. Pasien dianjurkan untuk minum lebih dari biasa, sehingga volume urin sehari sebaiknya mencapai satu sampai satu setengah liter.

Secara umum dianjurkan bertindak¬† higienis¬† seperti membersihkan diri setelah miksi atau defeksi “dari muka atau dari belakang bila digunakan kertas WC atau cebok” minum banyak sehingga di uresis cukup dan mengosongkan kandung kemih betul pada setiap kali miksi.

Inkontinensia

Inkontinensia adalah ketidakmampuan menahan air kemih yang dapat disebabkan oleh berbagai kelainan. Dalam keadaan normal kandung kemih terisi sampai penuh kapasitasnya (sekitar 300 ml) dengan tekanan isotonik, tidak bergantung pada banyak isinya. Refleks miksi yang terdiri dari kontraksi otot detrusor dan relaksasi sfingteruretra bagian proksimal terjadi ditingkat S3-4, pengendalian kesadaran, termasuk pada malam hari, dapat menunda refleks miksi untuk beberapa waktu hilangnya kendali ini dapat disebabkan oleh kelainan dan gangguan faal korteks otak, gangguan refleksi sakral dan kelainan serta gangguan faal otot detrusor dan sfingter.

Inkontinensia ini menimbulkan masalah higenis maupun sosial besar sekali. Bila mekanisme tahanan uretra terganggu, terjadi inkontinensia ketika tekanan di buli-buli meningkat, misalnya sewaktu ketawa atau mengangkat barang berat. Ini disebut inkontenensia stress. Bila aktivitas otot detrusor dinding kandung kemih meningkat, terjadi keinginan untuk buang air kecil yang sangat mendesak yang disebut inkontinensia urgensi.

Selain inkontinensia stress dan inkontinensia urgensi, sering ditemukan inkurtaparadoks, yaitu inkontinensia karena isi kandung kemih melebihi kapasitas volumenya sehingga urine terus menerus menetas keluar. Akhirnya terdapat juga inkontinensia akibat cacat bawaan seperti ekstrofia vesika, fisel urogenital karena penyakit atau penyulit partus fistel traumatik atau iatrogenik.

Penanggulan

Penanggulangan inkontinensia urgensi terdiri dari pengobatan penyakit penyebab, bila ada. Hiperaktivitas detrusor dapat dihambat dengan parasimpatolitik seperti probantin dan antrenil. Kadang digunakan juga latihan kandung kemih. Terapi bedah seperti transeksi kandung kemih, blok saraf sakral, atau neuroktomi sakral jarang menghasilkan perubahan atau keadaan yang memuaskan.

Baca juga: